Gerak Cepat TNI Bangun Desa Pasimbe yang Tertinggal

Foto: Istimewa

“Itu semua dilakukan dalam aksi sosial tersebut, mulai dari membangun tempat ibadah, tempat Mandi Cuci Kakus (MCK), jalan hingga sarana olahraga”

JAKARTA (Inspiratormedia.id) – Percayalah, masih banyak orang lembut hati di muka bumi ini, seperti halnya TNI, mereka dididik untuk bertempur, namun qalbunya bak sutra, karena jiwanya penolong sesama.

Hatinya yang lembut itu, dicurahkan oleh seluruh personel TNI pada saat bertugas di kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-104 di Kabupaten Aceh Tenggara.

Berawal dari rasa prihatin terhadap nasib warga negara yang jauh dari pembangunan. Hingga pada akhirnya mereka menjadikan dirinya sebagai tukang, guru, supir, hingga tenaga peinyuluh pertanian dan perkebunan bahkan juga jadi petugas kesehatan.

Itu semua dilakukan dalam aksi sosial tersebut, mulai dari membangun tempat ibadah, tempat Mandi Cuci Kakus (MCK), jalan hingga sarana olahraga.

Disana juga mereka menjadi dokter untuk masyarakat yang menderita sejumlah penyakit. Dari penyakit badan hingga penyakit masyarakat lainya.

Itu semua dilakukan mereka demi rakyat, karena rakyat merupakan ibu kandung mereka (TNI). Sehingga persoalan demi persoalan yang ada disana terselesaikan, baik itu dalam kegiatan (Jangka Pendek) maupun setelah TMMD.

Secara geografis, letak wilayah pelaksanaan kegiatan tersebut sangat jauh dari pusat Kota Provinsi Aceh. Yaitu di desa Pesimbe, Kecamatan Deleng Pokhkisen, Kabupaten Aceh Tenggara.

Untuk menuju kesana, jika kita bertolak dari ibu Kota Madya, Banda Aceh, bakal menghabiskan waktu selama 12 jam dengan menggunakan kenderaan roda empat.

Jika kesana benar-benar memerlukan perjuangan dan pengorbanan tenaga, makanya di desa yang memiliki ketinggian 1.000 meter tersebut, jauh tertinggal dari Kabupaten lainnya. Menurut data Badan Pusat statitik (BPS), pada tahun 2018 Kabupaten ini menduduki peringkat satu penduduk termiskin di tanah rencong.

Perjalanan ke Pesimbe betul-betul membutuhkan perjuangan keras. Ruas jalan menanjak, lalu menukik dan berbelok tajam serta jalanan berlubang seakan takkan ada habisnya.

Beragam keluhan tentang kondisi yang masyarakat alami bertahun-tahun, terdengar jelas di telinga para prajurit saban hari di sana.
Persoalan di sana, dikarenakan banyak pembangunan belum tersentuh masyarakat pedalaman.

Di sana, selain minimnya infrastrukur, jaringan telekomunikasi pun sulit. Untuk memperolehnya, warga meski naik ke perbukitan yang lebih tinggi guna mendapat sinyal.

Lokasi perbukitan itu kerap disebut warga dengan Bukit Cinta. Kenapa Bukit Cinta, karena disana banyak warga setempat memanfaatkannya untuk bertukar informasi dengan pasangannya.

Salah satu tugas TNI dalam hal ini, selain menjaga kedaulatan bangsa, TNI juga hadir bersinergi dengan rakyat. Maka dari itu prajurit yang sebelumnya di tempatkan disetiap satuan masing-masing.

Lalu dalam kegiatan itu dikerahkan kesana selama tiga puluh hari. Di tempat yang sangat pedalaman itulah, mereka dijadikan sebagai pembangun desa, untuk menjadi sebuah desa yang tertinggal menjadi kokoh dan berwarna.

Hal itu dilakukan sebagai mana yang telah teramanahkan oleh Panglima besar Sudirman.

“Bahwa TNI itu harus timbul tenggelam bersama rakyat. Tanpa rakyat, TNI bukan apa-apa,” ujar Jenderal Sudirman.

Nah, kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-104 di Kabupaten Aceh Tenggara menjadi fakta bagaimana pembangunan daerah bisa selaras apabila dikerjakan dengan bersama-sama alias gotong royong. Selain itu, TMMD juga merupakan solusi mengurangi angka kemiskinan.

Pembukaan jalan baru sepanjang 2 Kilometer di Desa Pesimbe telah mengembalikan semangat gotong royong yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.

Peran serta masyarakat setempat untuk membantu personel TNI yang tergabung dalam Satgas TMMD dari Kodim 0108/Agara, menunjukkan kemanunggalan TNI-Rakyat tetap terpelihara dengan baik. Disamping itu, keikutsertaan personel Polri dalam Satgas TMMD di sana juga mencerminkan soliditas TNI dan Polri dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang sejahtera.

Dalam kurun waktu 30 hari pengerjaan, hasil jerih payah yang digalang bersama-sama kini bisa dirasakan manfaatnya oleh rakyat secara langsung. Kini, warga yang mayoritas sebagai petani itu tak perlu menghabiskan waktu berjam-jam lamanya guna melangsungkan aktivitasnya.

Pelaksana harian (Plh) Pasiter lapangan TMMD, Kapten Arh Hamdanisyah, mengungkapkan pembangunan fisik jalan tersebut dibangun untuk kepentingan masyarakat banyak, khususnya para petani Desa Peseluk Pesimbe.

“Saat ini, masyarakat bisa menurunkan hasil buminya lebih cepat. Waktu yang biasa ditempuh sekitar 3 jam lamanya, kini bisa menjadi sejam,” ungkap Kapten Arh Hamdanisyah.

Kemudian, dengan adanya akses ini, bisa menunjang pariwisata di desa setempat. Pasalnya di Pesimbe memiliki destinasi wisata air terjun yang belum terjamah oleh masyarakat.

Perlu diketahui, sejarah telah mengajarkan bahwa semangat kebersamaan, kegotongroyongan serta persatuan dan kesatuan merupakan senjata ampuh bangsa Indonesia dalam menghadapi segala permasalahan dan tantangan.

Program TMMD dapat mendorong peningkatan ekonomi masyarakat, meningkatnya kesehatan lingkungan dan memantapkan kerukunan antar umat beragama.

Penulis: Anton Nursamsi