Israel dan Milisi Palestina Saling Gempur, Jumlah Korban Meningkat

Foto: Istimewa

“Di pihak Palestina, sebanyak 2.251 orang yang mencakup 1.462 orang tewas selama tujuh pekan”

JAKARTA (Inspiratormedia.id) – Jumlah korban tewas di pihak Israel dan Palestina meningkat setelah kedua belah pihak terlibat aksi kekerasan di Jalur Gaza.

Bentrokan paling sengit dalam beberapa tahun terakhir itu sejauh ini telah menyebabkan empat warga Israel dan 23 warga Palestina tewas.

Militer Israel mengklaim lebih dari 600 roket telah ditembakkan ke wilayah Israel sejak Sabtu (4/5). Sebagai balasan, Israel menyatakan telah melancarkan gempuran terhadap 320 target.

Bahkan, pada Minggu (5/5), Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, telah memerintahkan militer “melanjutkan serangan masif terhadap elemen-elemen teror” di Gaza.

Netanyahu juga menyatakan pasukan di sekitar Jalur Gaza akan “diperkuat dengan tank, artileri, dan pasukan infantri”.

Apa yang kita ketahui soal para korban?

Pemerintah Israel mengatakan sebanyak empat orang tewas akibat serangan roket.

Adapun Kementerian Kesehatan di Gaza mengungkap ada 23 warga Palestina yang tewas sepanjang akhir pekan. Sebagian besar tewas pada Minggu (5/5). Kelompok Jihad Islam mengakui tujuh di antara para korban tewas merupakan anggota mereka.

Akan tetapi sebagian adalah warga sipil, termasuk seorang bocah berusia 12 tahun dan dua perempuan hamil.

Selagi aksi saling gempur bereskalasi, militer Israel menyebut telah membunuh seorang komandan Hamas bernama Hamed Hamdan al-Khodari.

Sejumlah bangunan yang dihancurkan Israel, menurut militer Israel, adalah gedung bertingkat di Kota Gaza yang diklaim merupakan kantor intelijen Hamas.

Pemerintah Turki mengatakan kantor berita Anadolu juga berkantor di gedung itu. Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu, menyebut serangan Israel terhadap warga sipil adalah “kejahatan terhadap kemanusiaan”.

Pemimpin Hamas, Ismail Haniya, merilis pernyataan yang menegaskan “kembali ke kondisi tenang adalah mungkin” jika Israel berkomitmen “melakukan gencatan senjata secara komplet”.

Bagaimana aksi kekerasan bisa meletup?

Rangkaian aksi kekerasan bermula pada Jumat (3/5), tatkala aksi demonstrasi digelar untuk menentang blokade di wilayah Gaza.

Dalam aksi tersebut, seorang warga Palestina menembak dua serdadu Israel hingga cedera dekat pagar perbatasan. Pihak Israel membalas dengan melancarkan gempuran udara yang menewaskan dua milisi.

Rentetan roket kemudian dilesatkan dari Gaza sejak Sabtu (4/5) pagi. Sistem pertahanan rudal Israel berjuluk `Kubah Besi` menembak jatuh puluhan roket, tapi sejumlah rumah di berbagai desa dan kota Israel kena gempur.

Saling balas gempur ini adalah peningkatan aksi kekerasan tertinggi sejak konflik pada Juli dan Agustus 2014 lalu.

Saat itu, Israel melancarkan serangan darat ke Gaza menyusul penangkapan dan pembunuhan terhadap tiga remaja Israel.

Hamas dan sekutu-sekutunya meluncurkan lebih dari 4.500 roket yang menewaskan enam warga sipil di Israel. Konflik itu juga menyebabkan 67 serdadu Israel tewas.

Di pihak Palestina, sebanyak 2.251 orang yang mencakup 1.462 orang tewas selama tujuh pekan, menurut data PBB.

Upaya perdamaian sejatinya sempat dilakukan Mesir, namun Hamas dan kelompok-kelompok sekutunya menuding Israel melanggar sejumlah persyaratan.

Bagaimana reaksi pihak-pihak eksternal?

Nickolay Mladenov, Koordinator Khusus PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah, mengecam aksi kekerasan terkini. Menurutnya, PBB sedang berupaya meredakan kekerasan dari dua belah pihak.

Sementara itu, Sekjen PBB Antonio Guterres mengecam roket-roket diluncurkan ke Israel.

“Dia mendesak semua pihak melakukan pengekangan diri secara maksimum, sesegera mungkin meredakan situasi, dan kembali ke pemahaman selama beberapa bulan terakhir,” sebut keterangan dari kantor sekjen PBB.

Dari AS, Menlu Mike Pompeo menyatakan Israel “punya semua hak untuk mempertahankan diri” dari serangan-serangan roket.

“Saya harap kita bisa kembali ke gencatan senjata yang telah berlangsung selama beberapa pekan dan bertahan signifikan sebelum ini,” tambahnya.

Uni Eropa mendesak serangan roket “berhenti segera”.

Menlu Iran mengecam apa yang dia sebut serangan “buas” Israel terhadap Gaza, seraya mengecam “sokongan Amerika yang tidak terbatas” terhadap Israel.

Sumber: BBC Indonesia