Sekjen PBB Ingatkan Tentang Kritis Perubahan Iklim

Foto: Ilustrasi (ist)

“Orang-orang muda menunjukkan kepemimpinan dan mobilisasi yang luar biasa”

JAKARTA (Inspiratormedia.id) – Sekjen PBB Antonio Guterres telah memperingatkan tentang titik kritis dalam perubahan iklim sebagai akibat upaya-upaya yang tidak memadai untuk menghentikannya.

Pemimpin PBB itu berbicara di Madrid, menjelang konferensi iklim selama 10 hari yang dihadiri 25 ribu orang dari seluruh dunia. Spanyol telah menawarkan diri menjadi tuan rumah acara tersebut dalam waktu singkat setelah Chili mundur karena gejolak politik di negara itu.

Berbicara menjelang konferensi iklim ke-25 PBB, Sekjen PBB Antonio Guterres memuji orang-orang muda atas keterlibatan mereka.

Ia mengemukakan, “Orang-orang muda menunjukkan kepemimpinan dan mobilisasi yang luar biasa.”

Guterres juga mengkritik para pemimpin politik karena kurangnya kemauan untuk bertindak. Ia mengatakan, “Kemauan politik untuk menetapkan harga karbon, kemauan politik untuk menghentikan subsidi bahan bakar fosil, kemauan politik untuk berhenti membangun pembangkit-pembangkit listrik tenaga batu bara mulai tahun 2020 dan seterusnya, kemauan politik untuk mengubah perpajakan dari pendapatan ke karbon. Kita hanya perlu berhenti menggali dan mengebor, dan memanfaatkan kemungkinan yang luas dari energi-energi terbarukan dan solusi berbasis alam.”

Sementara banyak pemimpin dunia yang secara lisan mendukung upaya-upaya mengurangi polusi, tetapi gagal bertindak, Presiden AS Donald Trump secara terbuka telah menolak sains mengenai iklim serta mendukung industri yang menggunakan batu bara dan penghasil polusi lainnya. Guterres memperingatkan ada kerugian yang harus dibayar karena tidak melakukan tindakan apapun.

Ia mengatakan, “Kita sekarang ini dihadapkan pada krisis iklim dan apa yang terjadi tidak bisa lagi diubah, ini di depan mata dan melaju mendekati kita.”

Guterres mengatakan komunitas sains telah menyiapkan suatu peta jalan untuk mengatasi perubahan iklim yang mengharuskan pembatasan kenaikan temperatur global hingga 1,5 derajat Celsius, mencapai netralitas karbon pada tahun 2050 dan mengurangi 45 persen emisi gas rumah kaca dari kadar pada tahun 2010 selambat-lambatnya pada tahun 2030. Ia juga meminta negara-negara agar berkomitmen untuk mencapai sasaran-sasaran tersebut.

Penulis: Kris Rahmatiasina
Edt: Redaksi (ZS)
Sumber: voaindonesia.com