Kedepan, Indonesia Ditangan Milenial

Foto: Istimewa

“Kami merasa ikut bertanggungjawab menemani Pak Jokowi

JAKARTA (Inspiratormedia.id) – Gerakan KitaSatu bersama Gerakan Milenial Indonesia (GMI) akan menggelar acara kolaborasi bertajuk ‘Young Penting Indonesia’.

Inisiator Young Penting Indonesia, Arief Rosyid menyampaikan dalam jumpa pers, momentum Pilpres 2019 yang lalu, menjadikan generasi milenial dikedua kubu telah menunjukkan peran penting. Milenial berhasil menjadi ‘vote-getter’ yang signifikan bagi masing-masing calon.

“Kita lihat, dari mulai pilihan isu dan program yang dibawa masing-masing calon, hampir semua berkisar di isu-isu terkait milenial, baik itu dari kedua pasangan. Penggerak kampanya kreatif di kedua kubu Juga adalah generasi milenial. Peran mereka sangat dominan,” ujar Arief.

Menurutnya, walaupun sempat berbeda pandangan, milenial di semua kubu punya kentingan yang sama. Bagaimana menggeser peran milenial dari sekadar objek suara, menjadi subjek yang ikut menentukan perubahan.

“Milenial ingin segera mengakhiri rivalitas Pilpres. Kita perlu bergerak dari tahapan kompetisi ke tahapan kolaborasi, sama-sama membangun bangsa.” ujar Arief yang juga mantan jubir Milenial Jokowi-Amin ini.

Senada dengan itu, Koordinator Nasional GMI Sasha Tutuko menyampaikan generasi muda Indonesia memiliki banyak potensi yang dapat diasah melalui berbagai kolaborasi.

“Acara kolaborasi ini dilakukan sebagai usaha menjaga persaudaraan dalam politik. Kami menghargai aspirasi teman-teman sesama pendukung. Jadi dengan acara ini tidak perlu mengubah posisi masing-masing. Dalam demokrasi kan ada mekanisme check and balance,” ujar Sasha, Koordinator Nasional GMI.

Sasha juga menambah, seperti pesan Bang Sandiaga Uno, pembina kami anak muda harus dapat bekerjasama membangun negeri ini dengan  semangat persatuan Indonesia. Perbedaan  yang ada, jangan sampai merusak persaudaraan di antara generasi muda.

Sebagai tanggung jawab moral pemuda generasi milenial dapat mengkhiasi perbedaan dengan bentuk yang sebaik mungkin. Sasha Tutuko bersama Anggota GMI lainnya sepakat, bahwa berbeda tidak harus bermusuhan. Harapan GMI dengan terlaksananya kolaborasi ini, kedepannya bisa menjadi teladan kedua belah pihak untuk tetap harmoni dalam melampaui perbedaan.

Koordinator KitaSatu, Pradana Indraputra mengatakan, demokrasi bukan hanya tentang hasil, tapi juga prosesnya. Bangsa Indonesia dibangun dari proses yang tidak singkat dalam sebuah kebersamaan.

“Seperti Pak Jokowi yang tidak pernah membeda-bedakan kelompok manapun. Selalu menerima dengan tangan terbuka. Kita memilih demokrasi agar bangsa kita semakin kuat bukan sebaliknya,“ kata Pradana.

Lanjutnya, generasi milenial siap terlibat dalam pemerintahan, dengan memegang tanggung jawab yang lebih besar. “Kami generasi milenial bukan minta dilibatkan, namun selama ini kami justru telah terlibat secara mendalam.

“Kami merasa ikut bertanggungjawab menemani Pak Jokowi,” ujarnya.

Tambahnya, Pemerintahan ke depan perlu punya ‘roadmap’ pembangunan SDM milenial. Sehingga ada legacy yang jelas dalam menghadapi tantangan di masa depan.

Penulis: Demosz