Exercise ATFM dan A-CDM untuk Efisiensi Penerbangan Nasional

Foto: Istimewa

“ATFM dan A-CDM biasanya digunakan di bandara yang mengalami kendala yang disebabkan oleh cuaca buruk”

JAKARTA (Inspiratormedia.id) – Dalam rangka tindak lanjut program penyediaan pelayanan penerbangan yang lebih efisien, Pemerintah bersama Perum Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan  Indonesia atau AirNav Indonesia akan melakukan trial atau uji coba serta exercise implementasi Air Traffic Flow Management (ATFM).

Serta bersama Penyelenggara Bandara akan menyiapkan exercise implementasi Airport Collaborative Decision Making (A-CDM). kegiatan ATFM maupun A-CDM, akan melibatkan juga komponen-komponen dari airlines, operator  Ground Handling, BMKG dan juga Militer.

Direktur Jenderal Penerbangan Udara, Polana B. Pramesti yang diwakili Kepala Subdirektorat Standarisasi dan Prosedur Navigasi Penerbangan Direktorat Navigasi Penerbangan Mohammad Hasan Bashory menjelaskan, bahwa pengaplikasian ATFM dan A-CDM sangat penting untuk mengoptimalkan kapasitas ruang udara dan bandara udara guna pengoperasian penerbangan yang lebih efektif dan efisien di Indonesia.

“ATFM dan A-CDM ini penting karena berkaitan dengan efisiensi penerbangan. Sebagai contoh jika suatu bandara terkendala, maka melalui sharing information kendala tersebut dapat dimitigasi lebih awal, kepada pesawat yang akan terbang ke sana,” ujar Hasan, Selasa (12/2).

Lanjutnya, dengan demikian pesawat tersebut akan bisa melakukan penyesuaian. Karena jika tetap terbang dia akan berpotensi mengalami holding, divert bahkan RTB dan akan terjadi pemborosan bahan bakar.

Menurutnya, pengambilan keputusan (decision) terkait diperbolehkan atau tidaknya suatu penerbangan pesawat akan disampaikan melalui sistem yang terintegrasi antar stake holder.

Sehingga apabila terjadi pengurangan kapasitas di Ruang Udara maupun di bandara, maka akan diberlakukan Ground Delay Program, yaitu pesawat akan diminta untuk tetap di darat hingga kondisi di bandara tujuan ataupun di ruang udara yangbterkena dampak sudah clear.

Dengan demikian perencanaan operasional bagi maskapai juga dapat disusun lebih baik.

Hasan mencontohkan, penggunaan ATFM dan A-CDM biasanya digunakan di bandara yang mengalami kendala yang disebabkan oleh cuaca buruk, gunung meletus maupun kegiatan militer.

ATFM dan A-CDM bukanlah hal baru, keduanya pernah dilakukan secara taktikal saat penutupan Bandara Juanda Surabaya dan Bandara Ngurah Rai Denpasar karena dampak erupsi Gunung Agung, G. Ruang, G. Rinjani serta saat pertemuan IMF dan World Bank di Denpasar.

Dengan penerapan sistem ATFM dan A-CDM di Indonesia, maka pengoperasian pesawat dapat direncanakan dengan lebih efektif dan efisien.

Menurut Hasan, exercise ATFM dan A-CDM perlu diformalkan dalam bentuk skenario-skenario terburuk yang mungkin terjadi, serta dijadikan sebagai kegiatan rutin.

Sehingga ketika terjadi kondisi-kondisi tertentu tersebut, baik Authority, Airport, AirNav dan Airline akan lebih siap mengantisipasinya. Dengan demikian keselamatan penerbangan akan lebih terjaga dan efisiensi penerbangan juga lebih terjamin.

Penulis: Eddy SR