Gertakan China, Apa Motifnya?

Foto: Dok. Andy Syam

“Kalau China negara sahabat tentu tidak layak berbuat arogan dan sewenang-wenang seperti itu”

Oleh: Andy Syam (Peduli Kepemimpinan bangsa)

JAKARTA (Inspiratormedia.id) – Tidak diduga China tiba-tiba menghadirkan 30 kapal nelayan dengan dikawal kapal-kapal perang penjaga pantai di perairan Natuna.

Kalau China negara sahabat tentu tidak layak berbuat arogan dan sewenang-wenang seperti itu. Setiap sahabat akan mengajak sahabatnya duduk di meja bersama untuk berunding dan mencari solusinya. Tentu kehormatan bagi pemimpin Indonesia kalau diajak duduk semeja yang menunjukkan kesetaraan.

Tetapi cara China sepihak seperti itu, sepertinya menginjak muka sahabatnya. Sahabatnya dilihat amat lemah.

Karena itu Pemimpin Indonesia mesti memiliki sikap yang tepat agar pemimpin Indonesia dihormati dan disegani. Bukan menujukkan kelemahan seperti kucing melihat anjing menggonggong.

Sikap Indonesia yang agak datar dan tetap menunjukkan sikap diplomatik dalam menentang kehadiran kapal-kapal China memasuki perairan Indonesia di Natuna. Tapi China tetap arogan dengan merespon sikap Indonesia dengan berkata menantang: Mereka akan tetap disana dan merasa punya hak atas wilayah itu. Sedikit pun China sepertinya tidak kendor Dan seperti yakin bisa berbuat apa saja pada Indonesia.

Langkah China yang mendadak dan menggertak itu, sungguh sikap yang baru. Dari dulu belum pernah China berbuat demikian. Pasti ada faktor yang mendorong China berbuat demikian. Mungkinkah ada keterkaitan dengan situasi politik dalam negeri Indonesia yang baru-baru ini heboh menentang kekejaman China pada Muslim Uighur.

Situasi ini muncul setelah WJS memberitakan Ormas-ormas Islam di Indonesia menerima dana dari China agar diam dalam masalah Uighur.

Muhammadiyah melakukan protes keras atas pemberitaan itu dan menentang perlakuan China atas Muslim Uighur yang melanggar HAM.

Dari sisi analisis politik bahwa pemberitaan WJS berhasil menghasut China dan Indonesia meningkatkan suhu politik hubungan kedua negara. China melihat bahwa sikap rakyat Indonesia yang keras menentang China dalam soal muslim Uighur mencerminkan kuatnya pengaruh kelompok radikal di Indonesia.

Baik Barat maupun China punya kepentingan yang sama untuk menghancurkan kelompok radikal disetiap negara Muslim karena dianggap sebagai ancaman jangka panjang. Padahal kelompok radikal itu hadir bukan bersumber dari agama yang nengajarkan jalan tengah dan kelembutan.

Kelompok radikal adalah efek produktif dari suatu situasi yang meremehkan syariah agama karena penegakan hukum yang lemah dan tidak tegaknya keadilan.

Tetapi semua pihak menyadari bahwa Indonesia adalah negara yang tangguh, baik secara fisik maupun mental-spiritual dan ideologis. Sejarah perjuangan kemerdekaan membuktikan hal itu. Kegagalan Belanda dengan berbagai cara untuk kembali menjajah Indonesia.

Kegagalan pemberontakan G30 S/PKI 1965 menunjukkan Indonesia adalah negara kuat secara ideologis. Dengan Pancasila, Islam dan Kebangsaan, membuat Indonesia mampu menghadapi kekuatan ideologi dan pengaruh asing.

Ketangguhan bangsa Indonesia itu membuat strategi Proxi-war seperti yang diterapkan di Timur Tengah dan sukses, tapi tidak bisa dipakai di Indonesia. Bangsa Indonesia sulit diadu domba dan dipecah belah. Antara suku dan kelompok atau golongan tidak punya akar sejarah konflik.

Beda dengan di Timur Tengah memang masing-masing kelompok punya akar sejarah konflik sehingga mudah dihasut.

Dulu Belanda gagal memecah belah bangsa Indonesia dengan mendirikan RIS (Republik Indonesia Serikat), kemudian Indonesia kembali ke negara kesatuan RI.

Karena itu, bisa jadi ancaman China di Pulau Natuna merupakan strategi baru untuk menghadapi Indonesia. Sangat tidak sebanding kekuatan militer maupun ekonomi bila Indonesia melawan China. Indonesia bila tanpa bantuan militer asing bisa bangkrut dan sekarat menghadapi China sebagai raksasa milter dan ekonomi.

Kalau kalah Presiden Jokowi bisa dimakzulkan berarti ancaman ketidak stabilan politik Indonesia.

Bagi Barat sangat berkeinginan masalah Muslim Uighur bisa menjadi titik krusial membangun konflik antara China komunis dengan negara-negara Muslim termasuk Indonesia. Merupakan keuntungan bagi Barat bila terjadi perang terbuka antara Indonesia melawan China.

Memang itu yang diharapkan bagaimana negara-negara komunis berhadapan dengan Negara Muslim. Salah satu sisi perang global. Mengulangi strategi di Suriah ketika Rusia campur tangan dengan mesin perang hanya beberapa hari saja menggempur kota Alepo, Ghouta dan lain-lain kaum oposisi hancur dan lari keperbatasan Turki.

Masih menjadi pertanyaan, apakah China bersungguh-sungguh ingin perang dengan Indonesia..? Jangan-jangan ini stretegi China ingin menguji kepemimpinan Jokowi dan Prabowo dengan menggertak Jokowi dan Prabowo agar bisa lebih lunak dan mau kompromi dengan China dalam soal Uighur. Prabowo dianggap punya hibungan dekat dengan kelompok radikal.

Kemudian, apakah China mau terima kalau Presiden Jokowi nanti mengatakan bahwa Indonesia gagal bayar hutang pada China karena perang yang diciptakan oleh China.

Xi Jinpin bukan Donald Trump yang suka berapi-api dan ceroboh berucap serta bertindak. Tapi dulu Xi Jinpin pernah berucap bahwa kalau Indonesia sudah pengalaman menghadapi komunisme. Tapi ingat kalau ente jual kami akan beli.

Edt: Redaksi (AN)