Harta Amanah Bung Karno

Foto: Istimewa

“Ketiga nya adalah amanah yang besar sekaligus berat yang diemban Bung Karno hingga akhir hayatnya”

Oleh: Salamuddin Daeng (disarikan dari ngobrol ngobrol bersama Ki Burhan Rosyidi)

JAKARTA (Inspiratormedia.id) – Ada tiga hal yang dilakukan Bung Karno dalam menjalankan amanahnya: (1) Sebagai penyambung lidah rakyat. (2) Melaksanakan amanat penderitaan rakyat atau Ampera dan (3) Menjalankan Bandung spirit sebagai dasar gerakan non blok.

Ketiga nya adalah amanah yang besar sekaligus berat yang diemban Bung Karno hingga akhir hayatnya.

Mengapa Bung Karno mau mengemban amanah yang begitu berat tersebut? Mengapa Bung Karno merasa perlu bersusah payah? Mengapa Bung Karno tidak menikmati saja kekuasaan di tangannya, sebagai raja diraja atau rajanya para raja.

Mengapa Bung Karno tidak mengambil untung saja atas kedudukanya sebagai pemimpin negara, sebagai kepala pemerintahan? Semua pertanyaan tersebut hanya Bung Karno yang tahu jawabannya.

Namun pertanyaan kita bangsa Indonesia adalah dari mana amanah itu datang? Siapa yang mewariskan dan memberikan amanah itu kepada Bung Karno? Mengapa Bung Karno mendapatkan amanah itu? Ini bukan hal yang mudah untuk dijelaskan.

Pandangan kita harus diarahkan pada seluruh peristiwa yang menyusun sejarah terbentuknya bangsa Indonesia.

Berawal dari suatu keyakinan bahwa di dunia ini, tidak ada suatu kejadian yang kebetulan. Kehadiran sebuah bangsa dalam konstelasi dunia bukan suatu kebetulan.

Demikian juga dengan kehadiran Indonesia bukanlah suatu kebetulan. Demikian pula dengan kemerdekaan Indonesia bukan lah suatu yang kebetulan.

Demikian pula halnya dengan adanya Pancasila, UUD 1945 bukanlah suatu yang kebetulan. Juga lahirnya negara Indonesia sebagai negara bangsa juga bukan suatu kebetulan.

Indonesia sebagai negara bangsa lahir untuk menjalankan takdirnya, bukan sebagai obyek garapan. Ia berdialektika, tumbuh dan berkembang dalam dinamika sejarahnya sendiri, bukan sebagai proyek garapan.

Indonesia telah mendapatkan identitas sebagai negara bangsa dan membangun filosofi dan ideologinya, serta menyusun konstitusinya diatas fondasi sejarah dan kulturnya sendiri, bukan sebagai lahan garapan.

Fakta bahwa Bangsa Eropa, mereka telah menjadi obyek garapan dari suatu nafsu dominasi dan eksploitasi. Sebagai proyek garapan, maka terbagilah Eropa ke dalam negara-negara yang basisnya bahkan adalah suku suku bangsa.

Perbedaan dialek dalam bahasa pun telah memisahkan bangsa Eropa dalam suatu negara sendiri. Dialektika dari Negara negara.

Eropa tersebut mencapai keemasanya mulai dari era renaisans, yang lebih lanjut menjadi sumber ideologi dari kolonialisme dan imperialisme, hingga perang dunia pertama dan kedua yang kemudian mengakhiri riwayat mereka sebagai obyek garapan elite global, dengan dibangunnya negara Amerika Serikat sebagai obyek, proyek dan lahan garapan baru.

Sebuah negara terbentuk yang tidak lagi berbasis kebangsaan sebagaimana nenek moyang mereka di Eropa, namun warga negara semata, individu warga negara.

Faktanya! pada saat yang sama, Indonesia lahir pada saat konsep kebangsaan sebagai fondasi sebuah negara hendak dihilangkan. Indonesia mendeklarasikan dirinya sebagai negara bangsa.

Indonesia lahir di saat pemerintahan global hendak dibangun dalam one world, one sistem, one government, one identity, Indonesia menetapkan kebangsaan, nasionalisme dan kemanusiaan sebagai dasar Indonesia merdeka.

Indonesia lahir di saat keseimbangan dunia didesain dalam dua persaingan besar yakni blok komunisme dan blok kapitalisme, Indonesia membentuk non blok dan melahirkan Bandung spirit sebagian landasan pergaulan internasional dengan landasan kerjasama dan saling ketergantungan atau interdepndensi serta menolak segala bentuk dominasi dan eksploitasi manusia atas dasar kolonialisme dan imperialisme.

Indonesia sebagai Negara bangsa bukan sebuah kebetulan. Demikian juga konstitusi Indonesia UUD 1945 juga bukan kebetulan.

Tidaklah mungkin pembukaan UUD 1945 adalah hasil buah pikiran semata, tanpa petunjuk Illahi, yang didalam konstitusi dasar Indonesia termaktub pernyataan yang sangat mulia yakni Rahmat Allah Swt, sebuah pernyataan rasa syukur dan spirit yang menuntun manusia pertama di bumi untuk menjadi manusia kembali.

Itulah mengapa Indonesia selalu menjadi hambatan elite global dalam memuluskan obyek garapan mereka. Indonesia selalu menjadi hambatan bagi agenda agenda mereka.

Indonesia selalu menjadi penghalang bagi proyek anti kemanusiaan yang dikomandoi elite global yang selalu menginginkan
pertentangan dan persaingan.

Pada saat yang sama Indonesia justru membangun asas kebersamaan kegotongroyongan sebagai fondasi dan sekaligus modal sosialnya.

Di saat elite global ingin globalisasi dan internasionale, namun pada saat yang sama Indonesia membangun kebangsaan, nasionalisme dan kemanusiaan.

Disaat elite global ingin menyuap manusia dengan kesejahteraan, Indonesia malah menegaskan bahwa keadilan sosial atau “social justice” sebagai fondasi Negara bangsa.

Elite global menyihir manusia dengan materialisme, Indonesia malah menjadikan spiritualisme sebagai jalan untuk mewujudkan kemanusiaan yang adil dan beradab di muka bumi dan keadilan sosial bagi semua manusia.

Siapa Indonesia? Mengapa amanah di pundaknya begitu besar, yakni amanah untuk menggulirkan peradaban kemanusiaan, menjalankan kemanusiaan yang adil dan beradab, yakni amanah untuk menjadikan masing-masing orang sebagai manusia kembali, yakni amanah untuk menghidupkan sprit kemanusiaan, sehingga orang-orang Indonesia mudah menjadi manusia kemabali.

Spirit yang selalu dibelokkan oleh elite global untuk memperbudak anak dan cucu Nabi Adam, kita manusia. Amanah untuk menghidupkan spirit yang telah ditancapkan di atas bumi nusantara.

Semua itu adalah amanah yang besar, yang ditakdirkan bagi bangsa Indonesia yang dengan segenap apa yang ada dalam dirinya dan segenap kapasitas yang dimilikinya dalam keadaan berkemampuan menjalankan amanah itu.

Dan Pembukaan UUD 1945 itu hendak menggulirkan peradaban kemanusiaan.

Doa Nabi Adam:

“Rabbanaa zholamnaa anfusanaa wa illam tagfirlanaa watarhamnaa lanakuunanna minal khaasiriin.”

Artinya:

“Ya Tuhan kami, kami telah menzhalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”

Bersambung…

Edt: Redaksi (AN)