Kearifan Menilai Sang Pemimpin

Foto: Doc. Andy Syam

“Kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta kini adalah yang paling disorot diantara semua Gubernur”

Oleh: Andy Syam

JAKARTA (Inspiratormedia.id) – Dalam negara yang sedang tumbuh, selalu menghadapi masalah kepemimpinan. Baik lokal maupun nasional. Ketidak puasan pada sang pemimpin merupakan komoditi yang terus dijual untuk meronrong wibawa kepemimpinan.

Mari belajar kearifan untuk menilai sang Pemimpin.

Kepemimpinan adalah suatu maqom (kedudukan). Bisa berarti maqom batiniah (spiritual) dalam hubungan manusia sebagai hamba dengan sang Khaliknya. Bisa juga berarti maqam lahiriah (duniawi) untuk melayani sesama manusia dan memakmurkan dunia. Atau gabungan keduanya. Semua itu menceminkan kekhalifahan manusia.

Tapi disini kita menyorot maqom lahiriah. Setiap orang yang memasuki maqom itu dan gelanggang kepemimpinan akan menjadi sorotan publik. Ada yang memihak (pro) kepadanya dan ada pula yang tidak memihak (kontra kepadanya). Ada yang mendukungnya dan ada pula yang menentangnya.

Itu adalah cermin kesempurnaan sifat manusia yang bisa menyoroti dua jalan kehidupan, yaitu yang hak (benar) maupun yang bathil (salah). Semua orang sewaktu-waktu dalam konflik bantin antara yang hak dan yang bathil. Inilah perang abadi dalam diri manusia yang menggelora di ranah sosial. Atas Izin Tuhan, bisa jadi yang bathil mengalahkan yang hak karena yang bathil memilki barisan yang rapi dan terorganisir dengan baik.

Pemimpin yang berjiwa besar akan tawadhu (rendah hati) dan tidak akan membenci orang-orang yang kontra dan tidak mendukungnya. Bahkan menjadi cambuk bagi dirinya untuk melakukan yang lebih baik atau melakulan perbaikan kalau masih punya waktu. Kalau bisa berusaha membalikkan kekuatan penentang menjadi kekuatan pendukung. Berusaha membalikkan kelemahan menjadi potensi kekuatan.

Tak ada pemimpin yang sempurna tapi selalu ada celah kelemahan dan mungkin kehilafan. Itu adalah sifat lumrah sebagai manusia. Tetapi setiap pemimpian pada umumnya cenderung menunjukkan kekuatan dari pada kelemahan. Semua akan nampak dari ambisinya dalam mewujudkan mimpi-mimpinya.

Ambisi Pemimpin ibarat pedang yang bermata dua. Ambisi untuk meraih popularitas bisa jadi potensi kekuatan sekaligus menunjukkan kelemahan. Ambisi bisa membuatnya melakukan sesuatu yang baru, tapi lalai pada yang perlu perbaikan dan mungkin mendesak.

Kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta kini adalah yang paling disorot diantara semua Gubernur. Karena Jakarta selain jadi barometer tingkat nasional juga menjadi tempat kebangkitan menuju pemimpin nasional. Anies Baswedan adalah salah seorang sosok yang berpotensi jadi Pemimpin nasional. Potensi karakter, ilmu, integritas dan popularitas merupakan modal yang sudah dimilikinya.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sungguh dalam ujian kepemimpinan. Lebih sering disorot dan dibesar-besarkan sisi kekurangannya dari pada kebaikannya.

Ketika banjir datang mengepung Jakarta, sejuta mata menatap sang pemimpin (Gubernur). Apakah yang telah dilakukannya dan apa yang telah dilalaikannya. Sang Gubernur tidak dapat menutup mata dan telinga rakyatnya dengan berkata ” kami bertanggung jawab” dan turun bersama kelapangan untuk memberikan bantuan dan pertolongan.

Celaan dan kritik pun muncul berhadapan dengan pujian dan pembelaan. Paska banjir pun terjadi pengarahan massa di Balaikota. Seolah Gubernur DKI Jakarta adalah target untuk dijatuhkan. Seolah ada politik balas dendam dari musuhnya. Siapa sesungguhnya musuhnya merupakan pertanyaan besar.

Karena setiap penimpin pasti ada pro-kontra. Musuh bukan masalah selama musuh itu berjuang dalam koridor kebenaran. Bukan dengan ambisi semata untuk balas dendam. Pemimpin yang berambisi demikian, boleh dibilang sedang frustrasi dan kehilangan hati nurani.

Sudah jujur dan adilkah kita menilai sang Pemimpin. Relakah kita melepaskan ambisi kepentingan dalam menilai sang Pemimpin. Adakah kejujuran dan keadilah dalam mencela dan mengkritik..?. Adakah kejujuran dan keadilah dalam dukungan dan pembelaan.

Selama kita belum jujur dan adil menilai Pemimpin, maka yang kita hasilkan hanyalah kegaduhan bukan perbaikan. Pikiran dan energi terbuang percuma. Hanya menimbulkan ketegangan syaraf dan kelelahan. Hanya menghasilkan politik kebencian dan kedengkian. Bahkan kesia-siaan. Relakah kita dalam kesia-siaan..?

Sekali lagi, sudah jujur dan adilkah kita menilai sang Pemimpin.

Edt: Redaksi (AN)