Keputusan, MK Harus Jujur dan Adil

Foto: Doc. Jacob Ereste

“Sungguh jujur dan adil itu yang saya tunggu. Dan siapa yang menang, susungguhnya bukan masalah bagi saya”

Oleh: Jacob Ereste

JAKARTA (Inspiratormedia.id) РGugatan untuk Pelaksanaan Pemilihan  Presiden (Pilpres) ke Mahkamah Konstitusi (MK) bukan masalah menang dan kalah, tetapi untuk meminta perlakuan jujur dan adil (jurdil) sebagaimana yang menjadi motto atau jargon dalam Pemilihan Presiden (Pemilihan Umum), jadi bukan cuma untuk pemilihan Presiden belaka itu harus jujur dan adil.

Hanya saja yang melakukan gugatan dan lebih menarik menjadi perhatian masyarakat luas adalah cara dari pelaksanaan pemilihan presiden yang ditenggarai banyak terjadi kecurangan atau perilaku yang tidak jujur dan tidak adil yang dilakukan oleh satu pihak pasangan presiden, utamanya dari pihak patahana.

Demikian juga pasangan petahana yang tetap menjadi pejabat selama kampanye hingga pemilihan presiden dilakukan.

Dugaan adanya kecurangan yang dilakukan oleh pihak pasangan tertentu yang hendak membagi 400 ribu amplop berisi duit dengan jumlah keseluruhan 8,4 miliar itu jelas kuat diduga hendak digunakan untuk serangan fajar saat Pilpres. Dan kasusnya toh sudah sampai ke tangan KPK (karena kasusnya tertangkap tangan).

Dasar pemikiran MK pun menjadi tidak logika jika MK tidak bisa membatalkan, apalagi hendak melakukan keputusan untuk melakukan putusan diskualifikasi terhadap  pasangan presiden sebagai peserta Pilpres, ketika jumlah suara yang jadi sengketa dianggap tidak cukup signifikan jika harus dikurangi atau ditambah kepada pihak lain, namun tidak juga bisa untuk mengalahkan jumlah suara pihak yang melakukan kecurangan.

Jadi masalahnya yang disengketakan di MK bukan soal selisih angka dari suara yang diperoleh, tetapi masalah praktek Pilpres yang tidak jujur dan tidak adil, karena semangat jurdil dalam Pemilu apalagi Pilpres jadi cuma omong kosong belaka.

Oleh karena itu, apapun keputusan MK, sesungguhnya yang ditunggu dan diharap oleh warga masyarakat adalah keputusan yang jujur dan keputusan yang adil sesuai dengan kesepakatan semua pihak yang telah ikut dan mengikuti tahapan Pemilu, Pemilihan Presiden (Pilpres), sebab presiden yang dipilih secara curang jelas tidak bisa atau bahkan tidak mungkin dapat dipercaya untuk membangun masa depan bangsa dan negara Indonesia yang kebih baik lebih benar.

Karena tidak jujur dan tidak adil sudah mengawali kekuasaan yang diraih dengan cara yang tidak benar.

Sungguh jujur dan adil itu yang saya tunggu. Dan siapa yang menang, susungguhnya bukan masalah bagi saya.

Edt: Anton Nursamsi