Pembangunan Modal Dengkul

Foto: Istimewa

“Jangan-jangan ada yang membangun, diatas tanah air Indonesia, tapi tidak perlu orang-orang Indonesia”

Oleh: Salamuddin Daeng (disarikan dari ngobrol-ngobrol dengan Bang Hariman Siregar)

JAKARTA (Inspiratormedia.id)Pembangunan, ada dua cara dalam melakukan pembangunan. pertama pembangunan dengan menggunakan modal dan pembangunan tanpa menggunakan modal.

Apa itu modal? yakni setumpuk uang, emas, yang bisa digunakan untuk membayar tenaga manusia, peralatan kerja, bahan makanan dan lain-lain untuk menjalankan pembangunan.

Modal itu berbeda dengan pendapatan atau income. Pendapatan hanya bisa untuk beli makan, beli rokok, dan bersenang senang. Pendapatan tidak bisa digunakan untuk pembangunan.

Darimana sumber modal pembangunan? sumber modal itu hasil nabung tahun tahun, atau hasil menjajah bangsa lain ratusan tahun, ditumpuk dalam bentuk emas, uang yang terjamin, dan kekayaan yang liquid lainnya.

Sebagai contoh Pertamina sekarang ini butuh waktu 200 tahun menabung untuk bisa membuat satu kilang pengelolaan minyak mentah menjadi produk minyak. Itulah mengapa Pertamina tidak akan pernah bisa bangun kilang baru sendiri. Karena tidak ada modal, dan dagang BBM katanya selalu tekor.

Pembangunan memakai modal adalah cara yang lazim yang dilakukan oleh manusia moderen sekarang ini. Pembangunan tidak menggunakan modal pernah dilakukan di Indonesia namanya kerja paksa yakni kerja rodi di era kolonial belanda dan kerja paksa Romusha di era kolonial jepang.

Dengkul

Dengkul adalah nama lain dari lutut. Ada banyak idiom yang menggunakan kata dengkul. Seperti mikir pake dengkul, modal dengkul. Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) deng·kul berarti lutut; atau bohong; palsu; kosong: kabar; modal.

Apakah dengkul bisa dipake sebagai modal pembangunan? bisa! yakni pembangunan modal dengkul alias pembangunan yang tidak memerlukan modal dan sekaligus tidak memerlukan otak.

Mungkin pembangunan modal dengkul ini hanya memerlukan lutut dan otot. Cara pembangunan yang sulit dilakukan di masa sekarang, karena tidak mungkin memobilisasi orang untuk melakukan rodi atau romusha.

Indonesia

Bagaimana dengan pembangunan Indonesia sekarang ini? darimana bisa dapat modal untuk pembangunan, dapat dolar, dapat emas atau kekayaan lainnya yang dapat digunakan untuk pembangunan?

Sepertinya berat. Mengapa? Indonesia mengalami double deficit yaitu defisit dalam neraca berjalan (current account) dan defisit dalam angaran negara (Defisit APBN).

Defisit neraca berjalan berarti uang untuk memenuhi kewajiban ke luar negeri lebih banyak dibandingkan pendapatan yang diperoleh dari luar negeri. Berarti tidak ada tambahan uang masuk. Sebaliknya uang keluar terus bertambah.

Defisit dalam anggaran negara berarti lebih banyak pengeluaran dibandingkan pendapatan yang diperoleh. Bahasa sederhananya lebih besar pasak daripada tiang, sehingga untuk menutupinya maka harus berhutang.

Mengapa bisa demikian? Mungkin karena memang kere, atau bisa jadi bocor. Tapi siapa yang mau mengaku bocor?

Jika keadaan doubel deficit ini berlanjut maka kondisi demikian berarti Indonesia tidak akan pernah bisa punya saving emas, perak, uang dan kekayaan dalam bentuk lainnya yang liquid. Itu artinya Indonesia tidak bisa punya modal.

Selain itu APBN Indonesia akan semakin adiktif terhadap utang, sehingga seluruh pendapatan pajak, non pajak, hanya cukup untuk bayar utang.

Lah kok di Indonesia katanya sekarang ada pembangunan? Dimana mana katanya jalan dibangun, pelabuhan dibangun, bandara dibangun, padahal modal tidak ada. Bukankah double deficit ini berarti uang keluar lebih banyak dari uang masuk dan uang APBN bahkan tidak cukup buat biaya rutin pemerintahan dan harus ngutang?

Bukankah double deficit berarti walaupun ada dana utang, dana investasi yang masuk, tetap saja uang yang keluar untuk membayar bunga, cicilan utang dan keuntungan investasi asing, jauh lebih besar?

Jadi yang digunakan untuk pembangunan itu apa? Dengkul tidak mungkin, modal tidak ada. Jangan-jangan ada yang membangun, diatas tanah air Indonesia, tapi tidak perlu orang-orang Indonesia? Wah itu bukan punya kita ya? Sedih sekali.

Edt: Redaksi